UEFA telah memberikan sanksi kepada pemain muda Gianluca Prestianni setelah terjadi insiden kontroversial dengan Vinicius Jr dari Real Madrid. Kejadian ini terjadi saat pertandingan playoff Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid yang berlangsung pada Februari 2026.
Dalam pertandingan di Lisbon, Vinicius berhasil mencetak gol yang membawa timnya unggul 1-0. Namun, saat merayakan gol tersebut, ia mengalami dugaan tindakan pelecehan rasial yang dilaporkan langsung kepada wasit.
Wasit segera menghentikan permainan selama sekitar 10 menit untuk menerapkan protokol anti-rasisme. Insiden ini mendapat perhatian luas dan mendorong UEFA untuk melakukan penyelidikan secara mendalam.
Prestianni menjadi sorotan setelah video menunjukkan dirinya menutup mulut dengan jersey saat berbicara dengan Vinicius. Sementara itu, ia dan klub Benfica membantah tuduhan rasisme tersebut, dengan Prestianni menyatakan bahwa pernyataannya telah disalahartikan.
Sanksi yang diberikan oleh UEFA terdiri dari larangan bermain sebanyak enam pertandingan karena pelanggaran yang bersifat homofobia. Dari total sanksi itu, satu pertandingan sudah dijalani saat leg kedua melawan Madrid.
Tiga dari enam pertandingan sanksi ditangguhkan selama dua tahun, sehingga Prestianni dipastikan akan absen dalam dua laga awal kompetisi Eropa musim mendatang. UEFA mendapati bahwa pelanggaran tersebut sejalan dengan pernyataan Aurelien Tchouameni yang menyebut kejadian tersebut tidak dapat diterima.
Pernyataan presiden FIFA, Gianni Infantino, mengusulkan agar pemain yang menutup mulut saat bertengkar di lapangan diberikan kartu merah. Hal ini diungkapkannya usai insiden Prestianni, dan menunjukkan perhatian yang tinggi terhadap masalah ini.
Dalam regulasi UEFA, pelanggaran terhadap rasisme umumnya dihukum dengan larangan minimal sepuluh pertandingan di kompetisi Eropa. Keputusan terhadap Prestianni ini menuai kritik karena dianggap terlalu ringan, yang memicu perdebatan tentang konsistensi penegakan disiplin.
UEFA juga telah meminta FIFA untuk memperluas sanksi ini agar dapat diterapkan secara global. Dengan langkah ini, hukuman Prestianni bisa saja berlaku jika ia bermain untuk tim nasional Argentina di tingkat internasional.
Meskipun demikian, peluang pemain berusia 20 tahun ini untuk tampil di turnamen besar seperti Piala Dunia tampak rendah, mengingat ia hanya memiliki satu caps bersama timnas Argentina. Kasus ini kembali menyoroti pentingnya penegakan disiplin terhadap segala bentuk pelecehan dalam sepak bola.